Langsung ke konten utama

Postingan

Memenuhi Kebutuhan Tersier, Perlukah?

Pagi ini saya teringat percakapan dengan Ninis (NNK),  yang masuk dalam lima besar mahasiswa dengan perolehan IPK tertinggi seangkatan saya. Alhamdulillah. Semoga ilmunya berkah ya, Jeng. Dan mohon doanya semoga saya bisa jadi adik kelasmu tahun ini. Saat itu, kami sedang menonton acara televisi bersama. Jeng NNK cerita ke saya bahwa kemarin dia ketemu dengan kakak tingkatnya yang sudah lulus dari kampus kami dan telah bekerja. Sejujurnya, saya sudah lupa siapa nama kakak tingkat yang dia ceritakan itu. Sebab kejadian ini sudah berlalu delapan tahun lamanya. Saya hanya ingat suasana pembicaraan kami waktu itu hingga suatu kalimat yang sayang sama sekali tidak menyangka diutarakan olehnya saat itu.
"Sebenarnya aku takut, Des." "Takut kenapa?" "Takut gaya hidupku jadi berubah. Suka hura-hura. Belanja barang-barang yang sebenarnya gak perlu." "Iya ya, Nis. Semoga nanti kita gak jadi kayak gitu."
Saya tahu standar hidup seseorang dengan orang yang …
Postingan terbaru

Lelaki Baik yang Penyabar

"Dek, kenapa kamu mau nikah sama aku," tanyanya padaku suatu hari dan mungkin bila kuhitung pertanyaan ini pernah ditanyakannya lebih dari sepuluh kali dalam suasana dan tempat yang berbeda-beda. Mungkin dia sedang mencari keyakinan akan keputusanku di ahir tahun 2013 lalu.
"Karena Abang orang baik." "Iyakah, kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" "Orang-orang bilang begitu. Sewaktu abang tanya gimana kalau kita nikah ke aku, aku bilang ke abang agar sebaiknya langsung tanya orang tuaku aja. Lalu kami cari tahu tentang abang mulai dari teman lama abang, tetangga abang dan orang-orang di sekitar abang. Semuanya bilang abang orang baik kok. Tidak merokok apalagi minum minuman keras, sering shalat berjamaah di masjid, dan berbakti dengan orang tua. Aku hanya ingin menikah dengan seorang lelaki yang baik. Karena itu, aku tak punya alasan untuk menolak orang yang baik saat ia datang padaku."
Sudah empat tahun berlalu setelah ikrar suci itu. Key…

Anak Baik yang Penyayang dan Pemaaf

Menanamkan benih kebaikan pada anak adalah suatu hal yang amat menyenangkan ketika hal itu menjadi kenyataan. Saya mengajari Aisyah untuk mengatakan kata maaf sudah sejak ia masih bayi. Dan alhamdulillah bulan Maret kemarin Aisyah bilang maaf dengan sendirinya sewaktu melihat saya menangis. Saat itu, awalnya dia yang menyuruh saya untuk meminta maaf tapi kemudian ketika saya bilang saya sedih karena dia tidak mau makan dia bilang maaf.

"Aisyah minta maaf, Mamak."
Iya, maaf. Sebuah kata yang mungkin enteng ya tapi meluruhkan semua arogansi dan keegoisan diri. Ketika kata itu sudah bisa diucapkan oleh seorang anak berusia tiga tahun masya Allah saya bersyukur luar biasa alhamdulillah. Semoga Allah senantiasa menjagamu agar menjadi anak yang shalihah, ya Sayang....
Aisyah itu adalah pelipur hati mamak. Aisyah yang suka menyeka bulir-bulir air mata yang menetes di pipi mamak kalau mamak lagi nangis. Aisyah juga yang suka minta dibacain buku sama mamak. Minta baca buku Cerdas da…

Catatan Perjalanan dari Haramain Bagian 2

Kali ini insya Allah saya akan membahas tentang persiapan selama menjalankan ibadah di tanah suci. Apa sih yang harus kita persiapkan? Kaca mata? Koper gede? Atau kalau di haramain sedang musim dingin kita perlu menyiapkan jaket dan long john. Hehehe. Sesungguhnya, kata Ustadz Bahtiar Nasir dalam salah salu sesi manasik umroh yang videonya saya saksikan mengatakan bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa.

Catatan Perjalanan dari Haramain

Saya sudah tahu bahwa rukun Islam itu ada lima, yaitu bersyahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Terkhusus bagi haji dari zaman masih TK, saya mendapatkan catatan tambahan bahwa haji itu hanya untuk yang mampu. Mampu sendiri ada dua menurut yang diajarkan oleh guru-guru saya, yaitu mampu secara harta dan mampu secara fisik. Namun ketika saya semakin mendewasa, saya menyadari bahwa mampu bukan hanya dua hal itu saja. Ada satu hal yang menjadi tambahan indikator mampu itu, yaitu mampu secara iman. Banyak yang Allah karuniakan nikmat kesehatan dan kesejahteraan namun hatinya belum juga terpanggil untuk berkunjung ke baitullah.

Mengamati Gaya Belajar Anak, Hari Kelima

Hari ini ketika saya istirahat pulang ke rumah, Aisyah menyambut saya begitu saya mengucapkan salam. Alhamdulillah, saya amat bersyukur Aisyah memiliki inisiatif seperti ini. Aisyah masih terdengar agak pilek. Semoga lekas sembuh ya, Sayang.
Tadi saya mampir dulu ke toko mainan sebelum ke rumah. Saya beli congklak. Aisyah bertanya, apa itu? Apa itu? Saya jawab ini mainan congklak. Dia langsung membukanya. Lalu menaruh ikan-ikannya berenang di dalam congklak itu. Sayang, saya tak sempat mengambil gambarnya karena tadi disambi dengan makan siang juga.
Aisyah tipe anak yang sering bertanya, apa itu? Apa itu? Saat ada sesuatu yang tidak diketahuinya atau ada hal yang tak biasa terjadi atau kadang saat ia sedang melihat sesuatu yang biasanya sudah sering ia lihat, ia juga masih sering bertanya apa itu apa itu? Mungkin ia sedang mengkonfirmasi jawabannya kali ya.
Well, kalo dari angket tersebut buat pengamatan hari ini, gaya belajar Aisyah masih cenderung kombinasi antara Auditori dan Kine…

Mengamati Gaya Belajar Anak

Menurut Alvin Toffler masyarakat buta huruf di abad ke-20 bukanlah yang tidak bisa membaca dan menulis namun orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali belajar. Untuk itu, penting bagi kita untuk menumbuhkan keinginan dan ketertarikan belajar bagi kita dan anak-anak. 
Karena sejatinya, tujuan belajar adalah untuk: 
a. Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak (Intellectual Curiosity)
b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya (Creative Imagination)
c. Mengasah seni/cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu (Art of Discovery and Invention)
d. Meningkatkan akhlak mulia anak-anak (Noble Attitude)
Oleh sebab itu, kita harus melakukan pengamatan secara periodik... Apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah?  Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita /selama di sekolah?  Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar Aha! Moment (teriakan “Aha! Aku tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran …